diyas journal

a story, a poem, and a whatever

Selintas Terpikir

Selintas terpikir, jika saja semua hal bisa merasakan dan memiliki otak.

Apa yang dipikirkan sebuah pohon tua itu ketika aku  bercerita banyak hal pada wanitaku. semata hanya dia yang kupercaya untuk mendengar keluh kesah dan ocehan konyolku.

Apa yang dipikirkan oleh lampu-lampu jalanan dan trotoar berlapis paving block ketika aku berjalan menggenggam jemari wanitaku, semata tak ingin berpisah di waktu yang sangat sempit ini.

Apa yang dipikirkan oleh jembatan penyebrangan yang jauh dari kesan bersih itu, ketika aku dan wanitaku meminjam jasanya untuk berpindah jalur ke arah kita pulang.

Apa yang dipikirkan oleh gedung-gedung angkuh kota jakarta yang berdiri dengan sombongnya, ketika aku masih saja berkeliaran bersama wanitaku di malam yang semakin pekat, hanya untuk menghabiskan waktu bersama.

Selintas terpikir, untuk apa aku melakukan semua itu. Hanya ingin menyampaikan yang bahkan tak sanggup kukatakan secara lisan. Bahwa aku ingin bersamamu.

MT.Haryono
Jakarta Selatan
3 Februari 2012
Advertisements

Intermezzo

Ketika dua orang manusia terlibat sebuah percakapan santai sepulang kerja…

“Aku tak pernah merasa bahagia seperti orang lain, iri aku dengan mereka”

“”Bahagia itu sederhana, mau aku ajari caranya?””

“Mudah kau bicara seperti itu, kau selalu punya keluarga, sahabat, dan orang sekelilingmu yang mencintaimu, aku ini berbeda. Aku bahkan tak punya alasan untuk bahagia”

“”Kalau begitu, jadikan aku sebagai alasan untukmu merasa bahagia,,,””

“….”

 

Kawasan Setiabudi Building

Jakarta

31 Januari 2012

Tuhan, aku mohon…

Tuhan, aku tahu aku salah. Aku tahu aku melakukan yang seharusnya tidak dilakukan. Aku sungguh menyesal. Aku takut akan kemarahanmu. Tuhan, aku minta maaf. Begitu banyak dosa yang telah kuperbuat. Aku hanya mohon pengampunanmu. Jika kau ingin menghukumku, silahkan saja. Tapi jangan kecewakan orang-orang disekitarku. Jangan biarkan orang yang aku cintai ikut menanggung kesalahanku. Tuhan, aku tahu kau maha pemaaf. Aku hanya bisa memohon padamu. Aku berjanji tidak akan melakukan sesuatu yang kau larang lagi. Tuhan berikanlah petunjuk agar aku selalu di jalan-Mu. Bantulah aku meraih masa depanku. Begitu banyak mimpi yang ingin kuraih, Tuhan. Tolong aku Tuhan, Tolong aku…

 

Aku hanya seorang manusia biasa yang bisa menyerah pada hawa nafsu,

Aku hanya seorang manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan,

Aku hanya seorang manusia biasa yang hanya bisa bersimpuh dihadap-Mu

Aku hanya seorang manusia biasa yang selalu memohon kepada-Mu

Sang Pemuja

Dia membuatku terpesona, dengan keindahan dan kepolosannya. Entah kenapa aku suka. Dia yang datang entah darimana dan pergi entah kemana. Hanya berjumpa saat perasaan kami merasakan hal yang sama. Aku tak peduli dia siapa dan bagaimana. Aku cinta dia. Apa adanya. Dengan segala ketulusan yang bisa kuberikan. Pertemuan yang seringkali sangat singkat. Kadang membuatku gila. Mungkin dia tak merasa. Dia yang begitu dicintai oleh semesta. Tak akan mengira, ada seorang yang begitu memujanya. Aku tak menyangkalnya jika suatu saat dia mengembangkan sayap putihnya. Meninggalkan semua. Aku tak punya hak untuk meminta dan bahkan mendamba. Biarkan dia mengejar kedewasaan dan kesempurnaan. Aku disini hanya bisa memohon, Tuhan jagalah dirinya.

jangan pernah tanya alasan kenapa aku mencinta
biarkan semuanya hanya menjadi pertanyaan yang tak akan pernah terjawab

Hujan, Mungkin Kita Bisa Menjadi Teman Baik

Kemarin saya bertemu dengan hujan. Saya kira hujan itu menyebalkan seperti selama ini saya pikirkan. Saya sejujurnya tak terlalu suka hujan. Selalu saja menghambat saya beraktivitas. Dengan tetesan tetesan nya yang bahkan tak terlalu besar pun bisa membuat saya kesal.

Tapi ternyata hujan tak seperti itu, dia ramah, menyenangkan dan bisa membuat saya bicara tanpa henti. Kami berbincang seharian ditemani batangan-batangan nikotin yang menghangatkan kami. Hal apa saja bisa kami bicarakan, termasuk mengkomentari orang orang yang lewat di depan kami.

Hingga malam tiba pun kami masih asik dan hanyut dalam suasana. Saya ingin pulang, tapi hujan ternyata ingin ditemani. Dia lelah untuk sendiri, terkadang hujan pun butuh teman. Hujan yang bisa menghanyutkan dan menghempaskan apapun ternyata hanya sesosok yang bisa rapuh dan butuh sandaran.

Ternyata saya bisa suka dengan tetesan hujan. Saya sendiri tak menyangka. Tapi pada akhirnya kami harus berpisah. Berat saya meninggalkan dia sendiri. Saya takut dia kesepian. Saya takut tak ada yang mengerti dia dan memahami nya. Kemudian saya sadar, saya tak bisa egois. Hujan milik semua orang, dia milik siapa saja yang memang sudah menyukai hujan sejak lama. Bukan saya yang baru saja bertemu.

Saya hanya berharap kami bisa bertemu kembali dan bercakap-cakap kemudian tertawa bersama. Mungkin kami bisa jadi teman baik.

teruntuk hujan, yang selalu berkomentar ketika saya berpikir,

mungkin saya harus membiarkan apapun mengalir seperti tetesan mu…