diyas journal

a story, a poem, and a whatever

Category Archives: Other Stories

sebuah narasi

sebuah pagar ada untuk menjaga bukan untuk membatasi

sebuah pembatas ada untuk membatasi bukan untuk dilompati

sebuah prinsip ada untuk diikuti dengan naluri bukan dilawan dengan emosi

 

sebuah kalimat terucap ketika ada sebab

sebuah perjuangan dibutuhkan ketika ingin ada perubahan

sebuah perubahan diperlukan untuk sebuah kemajuan

 

di sebuah masa ketika semua nya berjalan sesuai angan-angan

disitu tepat berhentinya seonggok otak untuk bekerja menghasilkan sebuah pemikiran

 

kesadaran, logika, pola pikir, nalar dan sebuah intuisi hanya menghasilkan narasi

Advertisements

Intermezzo

Ketika dua orang manusia terlibat sebuah percakapan santai sepulang kerja…

“Aku tak pernah merasa bahagia seperti orang lain, iri aku dengan mereka”

“”Bahagia itu sederhana, mau aku ajari caranya?””

“Mudah kau bicara seperti itu, kau selalu punya keluarga, sahabat, dan orang sekelilingmu yang mencintaimu, aku ini berbeda. Aku bahkan tak punya alasan untuk bahagia”

“”Kalau begitu, jadikan aku sebagai alasan untukmu merasa bahagia,,,””

“….”

 

Kawasan Setiabudi Building

Jakarta

31 Januari 2012

Right Click – Defragmenting – My Brain – Process – Oops, Sorry Your Brain Cannot Be Defragmented….

 

have you ever feel like that? when you want to clean up your brain, coz its too much trash on your mind….

Itu Prinsipku…

Aku iri pada mereka yang begitu mudahnya menjalani kehidupan. Apapun yang diinginkan selalu bisa terpenuhi, tanpa kompromi.

Aku iri pada mereka yang menjalani sesuatu tanpa kesulitan, mereka yang dikaruniai otak jenius, tampang rupawan, dan perilaku berkesan.

Aku iri pada mereka yang dengan santai nya tertawa, tanpa ada beban yang mereka bawa.

Aku iri?

Ya, tapi mau bagaimana lagi, inilah diriku, dengan segala kekurangannya.

Tapi, apa bisa aku berdiam diri tanpa usaha? Tentu saja tidak, enak saja, mana mau aku menyerah begitu saja. Nasib ada di tangan Tuhan? Aku tak mau percaya. Nasib itu ada di tangan sendiri, Tuhan dengan tangannya lah yang membantu kita.

Malu aku, kalo hanya bisa mengeluh tanpa berpeluh.

Usaha keras dan pantang menyerah, itulah senjata.

Rasa lelah dan sakit, hiraukan saja, toh itu ibarat gigitan serangga di hutan penuh serigala.

Semua yang terjadi, anggap saja sebuah pergulatan di bahtera hidup seorang anak muda yang baru saja lepas dari kandang dan sadar akan begitu bahaya nya dunia di luar sana. Zona nyaman? Ah, sudah lama kutinggalkan itu semua. Bosan aku dengan kenyamanan yang terkesan fana.

Impian dan harapan pribadiku, itulah sasaranku.

Akan kubuat kembali zona nyamanku.

Dengan tanganku.

Itu prinsipku.

Diklat Spartan

Sudah minggu kesekian gue jadi orang bogor. Lah ngapain yas? Bukan jualan roti unyil ato bahkan tales bogor. Tapi disini gue sedang mengemban tugas yang sangat mulia demi membahagiakan orang tua dan keluarga.

Yap, gue ini sedang ada diklat dari sebuah bank yang bakal gue tempatin buat bekerja mencari nafkah demi memajukan bangsa dan negara, yang padahal gue buat Move On pun sulit, tapi udah sok2 belagak mau memajukan bangsa. Tapi ya gak apa, yang penting niat dulu. Ya gak bro?

Diklat ini ada senang maupun susah, senang karena dapet teman baru, ilmu baru, dan pengalaman baru. Susahnya gue harus nyuci dan nyetrika sendiri. Yang menurut gue pekerjaan yang patut di delegasikan ato di serahkan ke orang yang lebih ahli dan lebih enjoy ngerjainnya, dan yang pasti bukan gue. Read more of this post