diyas journal

a story, a poem, and a whatever

Category Archives: Daily Story

Di Kosan Baru….

Wuih udah lama juga gak nyampah disini…

Nyampah ah…

WOY MANA CERITA NYA !!!

Oh iya, sabar bang, bencong juga belom dandan udah buru buru aja…

Read more of this post

Advertisements

Kamar 505

Lorong-lorong yang panjang, suasana putih bersih, suara kursi roda berderit, dokter dan perawat hilir mudik.

Kira-kira itulah yang sering kulihat akhir-akhir ini.

Tak ada yang dapat kulakukan di ruangan ini. Hanya pagi menunggu malam untuk tidur yang kemudian bangun di pagi hari untuk kembali menunggu malam datang.

Bosan

Mungkin itu yang kurasakan.

Dengan selang infus tertanam di lenganku. Tak banyak yang dapat kulakukan. Pencapaian sejauh ini hanya duduk dekat jendela dan memandang keluar.

Pemandangan sebuah rumah kuno besar dengan taman yang terdapat chapel kecil, patung bunda maria tersenyum ramah di depannya.

Yah disinilah aku berada.
Di kamar 505.

Posted using Tinydesk Writer iPhone app

Selintas Terpikir

Selintas terpikir, jika saja semua hal bisa merasakan dan memiliki otak.

Apa yang dipikirkan sebuah pohon tua itu ketika aku  bercerita banyak hal pada wanitaku. semata hanya dia yang kupercaya untuk mendengar keluh kesah dan ocehan konyolku.

Apa yang dipikirkan oleh lampu-lampu jalanan dan trotoar berlapis paving block ketika aku berjalan menggenggam jemari wanitaku, semata tak ingin berpisah di waktu yang sangat sempit ini.

Apa yang dipikirkan oleh jembatan penyebrangan yang jauh dari kesan bersih itu, ketika aku dan wanitaku meminjam jasanya untuk berpindah jalur ke arah kita pulang.

Apa yang dipikirkan oleh gedung-gedung angkuh kota jakarta yang berdiri dengan sombongnya, ketika aku masih saja berkeliaran bersama wanitaku di malam yang semakin pekat, hanya untuk menghabiskan waktu bersama.

Selintas terpikir, untuk apa aku melakukan semua itu. Hanya ingin menyampaikan yang bahkan tak sanggup kukatakan secara lisan. Bahwa aku ingin bersamamu.

MT.Haryono
Jakarta Selatan
3 Februari 2012

Intermezzo

Ketika dua orang manusia terlibat sebuah percakapan santai sepulang kerja…

“Aku tak pernah merasa bahagia seperti orang lain, iri aku dengan mereka”

“”Bahagia itu sederhana, mau aku ajari caranya?””

“Mudah kau bicara seperti itu, kau selalu punya keluarga, sahabat, dan orang sekelilingmu yang mencintaimu, aku ini berbeda. Aku bahkan tak punya alasan untuk bahagia”

“”Kalau begitu, jadikan aku sebagai alasan untukmu merasa bahagia,,,””

“….”

 

Kawasan Setiabudi Building

Jakarta

31 Januari 2012

Hujan, Mungkin Kita Bisa Menjadi Teman Baik

Kemarin saya bertemu dengan hujan. Saya kira hujan itu menyebalkan seperti selama ini saya pikirkan. Saya sejujurnya tak terlalu suka hujan. Selalu saja menghambat saya beraktivitas. Dengan tetesan tetesan nya yang bahkan tak terlalu besar pun bisa membuat saya kesal.

Tapi ternyata hujan tak seperti itu, dia ramah, menyenangkan dan bisa membuat saya bicara tanpa henti. Kami berbincang seharian ditemani batangan-batangan nikotin yang menghangatkan kami. Hal apa saja bisa kami bicarakan, termasuk mengkomentari orang orang yang lewat di depan kami.

Hingga malam tiba pun kami masih asik dan hanyut dalam suasana. Saya ingin pulang, tapi hujan ternyata ingin ditemani. Dia lelah untuk sendiri, terkadang hujan pun butuh teman. Hujan yang bisa menghanyutkan dan menghempaskan apapun ternyata hanya sesosok yang bisa rapuh dan butuh sandaran.

Ternyata saya bisa suka dengan tetesan hujan. Saya sendiri tak menyangka. Tapi pada akhirnya kami harus berpisah. Berat saya meninggalkan dia sendiri. Saya takut dia kesepian. Saya takut tak ada yang mengerti dia dan memahami nya. Kemudian saya sadar, saya tak bisa egois. Hujan milik semua orang, dia milik siapa saja yang memang sudah menyukai hujan sejak lama. Bukan saya yang baru saja bertemu.

Saya hanya berharap kami bisa bertemu kembali dan bercakap-cakap kemudian tertawa bersama. Mungkin kami bisa jadi teman baik.

teruntuk hujan, yang selalu berkomentar ketika saya berpikir,

mungkin saya harus membiarkan apapun mengalir seperti tetesan mu…