diyas journal

a story, a poem, and a whatever

sebuah narasi

sebuah pagar ada untuk menjaga bukan untuk membatasi

sebuah pembatas ada untuk membatasi bukan untuk dilompati

sebuah prinsip ada untuk diikuti dengan naluri bukan dilawan dengan emosi

 

sebuah kalimat terucap ketika ada sebab

sebuah perjuangan dibutuhkan ketika ingin ada perubahan

sebuah perubahan diperlukan untuk sebuah kemajuan

 

di sebuah masa ketika semua nya berjalan sesuai angan-angan

disitu tepat berhentinya seonggok otak untuk bekerja menghasilkan sebuah pemikiran

 

kesadaran, logika, pola pikir, nalar dan sebuah intuisi hanya menghasilkan narasi

Di Kosan Baru….

Wuih udah lama juga gak nyampah disini…

Nyampah ah…

WOY MANA CERITA NYA !!!

Oh iya, sabar bang, bencong juga belom dandan udah buru buru aja…

Read more of this post

Hingga Ujung Jalan

Dengan cara mu kau membantu ku menghangatkan yang pernah terlupakan

Kuharap semua nya berjalan apa ada nya tanpa tekanan

Tak ada salahnya satu dua kata yang terkhilafkan

Perbedaan, kutantang dengan keikhlasan

Sekian lama kau membantu ku merevisi dan mengkoreksi

Kembali mimpi itu datang kembali

Ketika dua manusia berjanji, itu akan abadi

Didasari sesuatu yang pasti suatu saat nanti

Kau, dapatkah kupertahankan

Hanya untuk sekedar berjalan beriringan

Hingga ujung jalan tanpa persimpangan

teruntuk dia yang selalu menemani hari ku belakangan ini

Kamar 505

Lorong-lorong yang panjang, suasana putih bersih, suara kursi roda berderit, dokter dan perawat hilir mudik.

Kira-kira itulah yang sering kulihat akhir-akhir ini.

Tak ada yang dapat kulakukan di ruangan ini. Hanya pagi menunggu malam untuk tidur yang kemudian bangun di pagi hari untuk kembali menunggu malam datang.

Bosan

Mungkin itu yang kurasakan.

Dengan selang infus tertanam di lenganku. Tak banyak yang dapat kulakukan. Pencapaian sejauh ini hanya duduk dekat jendela dan memandang keluar.

Pemandangan sebuah rumah kuno besar dengan taman yang terdapat chapel kecil, patung bunda maria tersenyum ramah di depannya.

Yah disinilah aku berada.
Di kamar 505.

Posted using Tinydesk Writer iPhone app

Hasil Pekerjaanmu, Atas Namaku…

Teruntuk perempuan yang pernah tersesat dan kesulitan untuk membedakan antara kanan dan kiri.

Tahukah kamu, aku pernah enggan membuat suatu ikatan denganmu. Bukan apa-apa itu karena hatiku sudah rusak, sudah tak utuh dan bahkan sulit untuk mengidentifikasi bentuk dan isinya. Aku tak ingin memberikan sesuatu yang mungkin tidak layak untuk kuberikan. Tak etis, menurutku jika kuberikan kau sesuatu yang kurang berharga.

Tapi apa yang kau lakukan? kau tetap memintanya. Sesuatu yang jika salah menggenggam sedikit saja akan jatuh berhamburan. Kau menawarkan diri untuk menerima itu, tanpa kecuali. Dan bahkan berjanji untuk memperbaikinya. Apa aku semudah itu percaya? Tidak. Aku saja tak yakin bisa kembali utuh dan berfungsi dengan selayaknya. 

Dengan sabar kau membujukku untuk mempercayakan padamu, untuk kau perbaiki. Luluh sudah aku dengan tatapan polosmu. Kuberikan dalam kantung kertas berisi serpihan yang mungkin tak lengkap. Kutitipkan sesuatu milikku yang pernah dengan bangga kupamerkan yang kini dengan keadaan, yah… seperti itulah adanya. Anehnya, kau menerima nya dengan mata berbinar. Dan dengan yakin kau mengatakan “pasti akan kuperbaiki”.

Sesekali aku mengecek pekerjaanmu, apakah ada kesulitan dengan itu. Dengan mantap kau tersenyum seperti sedang mengusahakan dengan sebaik mungkin. Sedikit demi sedikit terlihat semakin baik. Aku tersenyum, kau memegang janjimu. 

Aku berjanji, saat hati itu sudah selesai dengan bentuknya yang baru, akan kuberikan untukmu selamanya. Hasil pekerjaanmu, atas namaku, dan dengan rencana Tuhan yang kita tahu selalu dengan alasan tertentu.

Lantai 2 kamar No.9
Jakarta Selatan
5 Februari 2012